Sponsor

Sabtu, 23 Februari 2019

MATI HIDUPNYA WAKIL TANGAN RAKYAT DALAM DEKAPAN WAKIL TANGAN DEWA

Tugas Seorang Wakil Rakyat | Masalah Wakil Rakyat | Wakil Rakyat Yang Dzolim | Wakil Rakyat Yang Bohong | Janji Manis Wakil Rakyat |




Diseluruh daratan dunia mahasiswa terkenal sebagai penggerak, pemantau, pendorong, pelopor, dan promotor suatu pergerakan Negara. Selain itu mereka juga memposisikan diri sebagai pembela masyarakat. Oleh karena mahasiswa erat dijuluki sebagai wakil tangan-tangan rakyat. Julukan tangan rakyat ini maksudnya adalah realisasi usaha mereka dalam memposisikan diri sebagai wakil-wakil keluh, kesah, bahagia dan duka masyarakat. Lantaran mereka selalu ada didepan gerbang pergerakan promotoris ketika pemerintah memiliki kebijakan yang bertolak pandang dengan rakyat.
Dimana usaha promotoris mahasiswa selalu tampak di berbagai kegiatan social; demonstrasi, sosialisasi, teknologisasi, ekonomisasi ataupun nasionalisasi. Terkadang tindakan frontal mereka akan muncul ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sekiranya dianggap kurang pro poor (pro kepada rakyat kecil). Sebagaimana aksi-aksi frontal kerap muncul disaat bahan bakar minyak (BBM) naik, bahan sembako naik, kasus yang muncul akibat sengketa lahan, atau penindasan dengan di segi perjanjian-perjanjian. Namun mereka tentu juga akan terlihat diam disaat tidak ada kebijakan yang dianggapnya menindas rakyat.


Tugas Seorang Wakil Rakyat | Masalah Wakil Rakyat | Wakil Rakyat Yang Dzolim | Wakil Rakyat Yang Bohong | Janji Manis Wakil Rakyat |


Demonstrasi bagian dari aksi frontal mahasiswa. Kenapa tidak, turun kejalan setelah banyak melakukan diplomasi-diplomasi yang tidak mendapatkan hasil dirasa sebagai jalan utama mereka. Dimaksudkan agar pemerintah atau lembaga terkait dapat langsung mendengarkan jeritan-jeritan masyarakat menegah kebawah saat diterpa kebijakan yang dzalim.
Namun kini, suara mahasiswa tidak sesakti auman singa sebagai raja hutan. Mindset beberpa politisi pun telah mampu melemahan para demosntran. Walau berapa kali pun mereka berdiplomasi, agitasi dan turun kejalan tetap saja orang-orang pemerintah merasa lebih paham akan nasip dan penderitaan rakyatnya. Akibatnya setiap pahlawan berkerah (pemerintah) menganggap demonstrasi sebagai iklan yang wajib serta biasa mewarnai dalam kancah kebijakan berpolitik.
Pemerintah justru lebih paham tentang pribahasa “Biarkan anjing menggonggong, kabilah tetap berlalu.” Maksudnya seringnya mahasiswa melakukan aksi demonstrasi maka mereka akan semakin terbiasa untuk bersikap cuek dalam menghadapi demonstrasi. Bahkan kerapkali pemerintah menyewa tangan-tangan dewa yang dirasa sebagai tameng berlindung paling aman. Dengan anggapan bahwa, tangan-tangan tersebut telah memiliki hak feto untuk melindungi dan mengamankan siapa saja yang berusaha mengganggu tuannya.
Landasan yang teramat pantas. Cukup memberimakan kepala tangan-tangan dewa maka pemerintah mampu menyetir buntut-buntut tangan dewa lainya yang harus selalu siap dan patuh menjadi korban politik untuk melawan tangan-tangan rakyat pada umumnya. Usaha demikian bukanlah tindakan yang licik. Sebab memberi makan dan patuh sudah menjadi budaya yang dianggap adil dan bijaksana untuk menempatkan tugas mereka dihadapan front demonstran dalam membela tuannya.
Pertemuan tangan-tangan dewa dengan tangan-tangan rakyat kerapkali menimbulkan kontak fisik sesamanya. Tidak jarang berlanjut dengan tindakan anarkisasi. Kejadian demi kejadian diataslah yang menibulkan anggapan penulis, bahwa peran mahasiswa hari ini dalam membela rakyat melalui usaha berdemonstrasi 75 % sia-sia. Demosntran telah dimatikan oleh sistem, demonstran sudah tidak memiliki baju kejayaan lagi dan demonstran harus siap untuk dinina bobokkan diatas ranjang sofa yang empuk, dibawahnya tertindihi rintihan rakyat yang tak mampu muncul kepermukaan dan beratapkan kumpulan pecahan kertas rupiah.
Berapa banyak demonstran menuntut hak rakyat namun tidak terpenuhi secara utuh bahkan tidak mampu mendatangkan jawaban atas tuntutannya talah menjadi hal biasa terjadi. Gerakan mereka yang setangguh akhir kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno, Soeharto, dan Habibie telah pincang ketokohannya ketika ia membela rakyat melalui gerakan aksi turun kejalan. Karena sebenarnya pemerintah selalu merasa enggan diganggu oleh mahasiswa dari golongan dan organisasi manapun.
Lalu, ketika mahasiswa sebagai pembela rakyat diangap iklan oleh pemerintah lantas siapa yang akan menjadi benteng aspirasi rakyat, siapa pula yang dikehendaki pemerintah untuk membela hak-hak masyarakatnya?. Tantu demikian, perlawanan dan kerja sama tidak akan pernah terwujud jika pemerintah, tangan-tangan dewa dan tangan-tangan rakyat selalu berdiri diatas tujuan mereka masing-masing. Langkah konkrit yang perlu diadakan adalah perlunya pertemuan rutin antara mahasiswa, pemerintah dan lembaga keamanan untuk mengkaji ulang filosofi Undang-undang dasar (UUD), Pancasila dan Garis-garis besar haluan Negara (GBHN). Serta perlunya berfikir menenpatkan kesejahteraan umum diatas segalanya tanpa tertunggangi tangan-tangan yang tersembunyi diatas kepentingan pribadi dan oportunisasi.

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net