Masalah Miss Komunikasi | Cara Mengatasi Miss Komunikasi | Jangan Takut Terjadi Miss Komunikasi | Atasi Masalah Miss Komunikasi Dengan Cara ini | Faktor Terjadinya Miss Komunikasi | Tips Menghindari Miss Komunikasi |
Kami hanyalah warga UTM yang masih
seumur jagung yang tahunya dan bisanya komentar dibalik realitas melalui tinta.
Kemarin tanggal 8 September 2014 kampus kami telah melaksanakan proses
penjaringan, penyaringan bakal calon dan sebentar lagi pemilihan serta pengangkatan
rektor baru untuk 4 tahun medatang.
Setahu kami proses penyaringan
melalui pemilihan umum yang digelar dengan mengikut sertakan dosen-kariyawan
PNS, dosen-kariyawan kontrak, dan mahasiswa akan terjadi apabila daftar bakal
calon yang terdaftar saat penjaringan lebih dari 3 bakal calon. Setelah itu, untuk
dipilih sebanyak-banyaknya 4 calon sebagai keberlanjutan ke proses pemilihan
dan pengangkatan rektor oleh senat (dengan persentase 65 % suara) dan mentri
(dengan persentase 35 % suara).
Masalah Miss Komunikasi | Cara Mengatasi Miss Komunikasi | Jangan Takut Terjadi Miss Komunikasi | Atasi Masalah Miss Komunikasi Dengan Cara ini | Faktor Terjadinya Miss Komunikasi | Tips Menghindari Miss Komunikasi |
“Namun kemarin inikan calonnnya
Cuma tiga !” gumam seorang mahasiswa yang sedang asik menikmati secangkir air
hitam disebelah kami, didekat warung kopi.
“Lalu bagaimana toh kampus ini,”
lanjut mahasiswa tersebut sambil mengguyup
kopinnya.
Kami mendengarkan betul
clentukan-cletukan mereka. Namun karena jarak yang terlalu jauh kami hanya bisa
mendengar sepotong-potong dan tak lengkap.
Jadi, walaupaun dalam Pasal 5 dan
6 Permen Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 24 tahun 2010 Tentang Pengangkatan dan pemberhentian
rektor/ketua/direktur pada Perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh
pemerintah sudah dijelaskan bagaimana prosesnya. Kami rasa kampus kami tak
melakukan penyimpangan. Sebab bagi kami mereka punya alasan tersendiri yang
mungkin kami tak tahu pasti. Menurut kami, diselenggarakanya pemilu rektor yang
calonnya cuma 3 dikarenakan beberapa alasan; pertama, karena kita (warga kampus) sudah terbiasa dengan pemilu rektor.
Jadi sangat tidak etis bila pemilu tersebut ditiadakan secara mendadak. Lagian
apa salahnya jika kita meramaikan pemilu rektor yang hanya 4 tahun sekali
berlangsung. Kedua, proses tersebut
setidaknya dapat memberikan study komparasi para senat dan mentri dalam melakukan
pemilihan rektor nantinya.
Masalah Miss Komunikasi | Cara Mengatasi Miss Komunikasi | Jangan Takut Terjadi Miss Komunikasi | Atasi Masalah Miss Komunikasi Dengan Cara ini | Faktor Terjadinya Miss Komunikasi | Tips Menghindari Miss Komunikasi |
Tapi
lha wong namanya warga yang segitu
banyaknnya, ada saja yang berfikiran reno-reno.
“Kenapa harus dilaksanakan sih, kan eman
uangnya. Dari pada begitu mending dibuat bantuan biaya pendidikan para dosen
yang lagi studi lanjut atau untuk perbaikan fasilitas prasarana kampus, atau
untuk bantuan beasiswa khusus mahasiswa atau untuk infak buku kuliah mahasiswa
atau untuk amal sembako yang diberikan pada satpam, klinic service atau dosen
kontrak gitu, atau apalah gitu. Kan selain eman dana, juga eman waktu. Meskipun
tak membuang banyak waktu tapi tetaplah ada waktu yang tersita selama beberapa
menit untuk melakukan pencontrengan”. Gumaman beberapa warga kampus
disekitar kami.
Bagi
kami, kami sangat menghargai alasan kontra mereka, karena mereka sama-sama sebagai
warga yang sama pula hak bicaranya seperti kami. Walau bagaimana pun, nasi
sudah menjadi bubur, para senat juga tentu punya alasan yang lebih matang dari
kami. Kami percaya, pemilu yang kemarin dilaksanakan ndak mungkin bersifat
asal-asalan. Dan hal yang sangat wajar apabila terdapat miss komunikasi dalam setiap keputusan dan kebijakan.








0 komentar:
Posting Komentar