KHOTBAH 3
Dikenal sebagai Khotbah
Asy-Syiqsyiqiyyah[i]
Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar)[ii]
membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa
kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada
penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dari saya dan burung tak dapat
terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan
melepaskan diri darinya.
Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus
menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, di
mana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin
yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat
matinya). Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil
kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan. Saya
melihat perampokan warisan saya sampai orang yang pertama menemui ajalnya,
tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibnu Khaththab sesudah dirinya.
Kemudian ia mengutip syair al-'A'sya':
Hari-hariku kini berlalu di punggung unta (dalam
kesulitan)
Sementara ada hari-hari (kemudahan)
Ketika aku menikmati pertemanan Hayyan, saudara
Jabir.[iii]
Aneh bahwa selagi hidup ia ingin melepaskan diri
dari kekhalifahan, tetapi ia mengukuhkannya untuk yang lainnya setelah matinya.
Tiada ragu bahwa kedua orang ini sama bersaham pada puting-puting susunya
semata-mata di antara mereka saja. Yang satu ini menempatkan kekhalifahan dalam
suatu lingkungan sempit yang alot di mana ucapannya sombong dan sentuhannya
kasar. Kesalahannya banyak, dan banyak pula dalihnya kemudian. Orang yang
berhubungan dengannya adalah seperti penunggang unta binal. Apabila ia menahan
kekangnya, hidungnya akan robek, tetapi apabila ia melonggarkannya maka ia akan
terlempar. Akibatnya, demi Allah, manusia terjerumus ke dalam kesemberonoan,
kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Namun demikian saya tetap sabar
walaupun panjang-nya masa dan tegarnya cobaan, sampai, ketika ia pergi pada
jalan (kematian)nya, ia menempatkan urusan (kekhalifahan) pada suatu kelompok[iv] dan
menganggap saya salah satu dari mereka. Tetapi, ya Allah, apa hubungan saya
dengan "musyawarah" ini? Di manakah ada suatu keraguan tentang saya
sehubungan dengan yang pertama dari mereka sehingga saya sekarang dipandang
sama dengan orang-orang ini? Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah
dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang
saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena
hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari
orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya.
Bersamanya sepupunya pun bangkit sam-bil menelan harta Allah[v] seperti
seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus,
tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh
tertelungkup.
Pada waktu itu tak ada yang mengagetkan saya
selain kerumunan orang yang maju kepada saya dari setiap sisi seperti bulu
tengkuk rubah sehingga Hasan dan Husain terinjak dan kedua ujung baju bahu saya
robek. Mereka berkumpul di sekitar saya seperti kawanan kambing. Ketika saya
mengambil kendali pemerintahan, suatu kelompok memisahkan diri ( Grup dan satu kelompok lain mendurhaka, sedang yang
sisanya mulai menyeleweng seakan-akan mereka tidak mendengar kalimat Allah yang
mengatakan, "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi ini. Dan
kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. " (QS.
28:83)
Ya, demi Allah, mereka telah mendengarnya dan
memahaminya, tetapi dunia nampak berkilau di mala mereka dan hiasannya menggoda
mereka. Lihatlah, demi Dia yang memilah gabah (untuk tumbuh) dan menciptakan
makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepada saya, dan para pendukung
tidak mengajukan hujah, dan apabila tak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa
mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang
tertindas, maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan
memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama.
Maka Anda akan melihat bahwa dalam pandangan saya dunia Anda ini tidak lebih
baik dari bersin seekor kambing.
Dikatakan bahwa ketika Arnirul Mukminin sampai
di sini dalam khotbahnya, seorang lelaki dari 'Iraq berdiri dan menyerahkan
kepadanya suatu tulisan. Amirul Mukminin melihat (tulisan) itu, dan ketika itu
juga Ibn 'Abbas --semoga Allah meridai keduanya-- berkata, "Ya Amirul Mukminin,
saya harap Anda lanjutkan khotbah Anda dari mana Anda telah
memutuskannya."
Atasnya ia menjawab,
"Wahai Ibn 'Abbas, hal itu seperti uap
dengusan seekor unta yang menyembur keluar tetapi (kemudian) mereda."
Ibn 'Abbas berkata bahwa ia tak pernah menyedihkan
suatu ucapan sebagaimana atas yang satu ini, karena Amirul Mukminin a.s. tak
dapat mengakhirinya sebagaimana diinginkannya.
Sayid Radhi mencatat: Kata-kata dalam khotbah, "seperti
penunggang unta" bermaksud menyampaikan bahwa bilamana seorang penunggang
unta menarik kendali dengan kaku maka dengan sentakan itu lobang hidungnya akan
memar, tetapi apabila ia melonggarkannya padahal unta itu liar, maka unta itu
akan melemparkannya di suatu tempat dan akan lepas kendali. Asynaq an-nāqah
digunakan bilamana si penunggang menarik kekang dan meninggikan kepala unta.
Dalam pengertian yang sama digunakan juga kata syanaqa an-nāqah. Ibnu Sikkit
telah menyebutkannya dalam Islāhul Manthiq. Amirul Mukminin telah mengatakan
asynaqa lahā sebagai ganti asynaqaha, karena ia menggunakannya seirama dengan
aslasa lahā dan keselarasan hanya dapat dipertahankan dengan mengunakan
keduanya dalam bentuknya yang sama. Jadi, Amirul Mukminin menggunakan asynaqa
lahā seakan-akan sebagai ganti in rafa'a lahā ra'sahā, yakni "apabila ia menghentikannya
dengan menarik kekang".•
[i] Khotbah ini terkenal sebagai Khotbah
Asy-Syiqsyiqiyyah dan dipandang sebagai salah satu khotbah Amirul Mukminin yang
paling masyhur. Khotbah ini disampaikan di Ar-Rahbah (suatu bagian dari Kufah).
Sebagian orang menyangkalnya
sebagai ucapan Amirul Mukminin, dan mengatakan bahwa itu dibuat-buat oleh Sayid
Radhi (Syarif Radhi) namun para ulama pencinta kebenaran telah menyanggah
sangkalan itu. Tidak ada pula dasar untuk penyangkalan itu. Perbedaan pandangan
Ali a.s. dalam hal kekhalifahan bukanlah rahasia, sehingga
singgungan-singgungan semacam itu tak dapat dipandang sebagai sesuatu yang
asing. Dan, peristiwa yang telah disinggung dalam khotbah ini terpelihara dalam
catatan-catatan sejarah yang membenarkannya, kata demi kata dan kalimat demi
kalimat. Apabila peristiwa-peristiwa yang sama yang bertaian dengan sejarah
dikatakan kembali oleh Amirul Mukminin maka manakah alasan untuk
menyangkalinya? Apabila ingatan akan keadaan-keadaan yang tak menyenangkan
segera setelah wafatnya Nabi nampak tak terlupakan baginya, tidaklah hal itu
harus mengejutkan. Tiada ragu, khotbah ini mengenai prestise tokoh-tokoh
tertentu dan mengurangi keyakinan dan kepercayaan kepada mereka. Tetapi,
kepercayaan itu tak dapat dipulihkan dengan menolak khotbah ini sebagai ucapan
Amirul Mukminin, kecuali apabila peristiwa-peristiwa yang sebenarnya dianalisa
dan kebenarannya diungkapkan. Apabila tidak demikian, sekadar menolaknya
sebagai ucapan Amirul Mukminin karena mengandung peremehan terhadap individu-individu
tertentu, tidaklah berbobot, padahal kritik yang sama telah diriwayatkan oleh
sejarawan lain pula. Maka, (Abu 'Utsman) 'Amr Ibnu Bahr Al-Jāhizh telah
mencatat kata-kata berikut ini dari suatu khotbah Amirul Mukminin, dan
kata-kata itu tidak kurang bobotnya daripada kritik dalam Khotbah
Asy-Syiqsyiqiyyah.
Yang dua ini meninggal dan yang ketiga bangkit
seperti gagak yang keberaniannya terbatas pada perut. Akan lebih baik apabila
kedua sayapnya terputus dan kepalanya terlepas.
Alhasil, gagasan bahwa khotbah itu buatan Sayid
Radhi adalah jauh dari kebenaran, dan hanya merupakan hasil partisan dan sikap
memihak. Sekiranya tuduhan itu merupakan hasil suatu penelitian, haruslah
dikernukakan. Bila tidak demikian maka bersikeras pada ilusi penuh hasrat
semacam itu tidak mengubah kebenaran, tidak pula kekuatan argumen-argumen yang
menentukan akan terpupuskan hanya dengan tidak setuju dan tak senang.
Sekarang, marilah kita lihat kesaksian dari para
ulama dan ahli periwayatan yang dengan tegas memandangnya sebagai asli dari
Amirul Mukminin, supaya pentingnya secara historis diketahui. Di antara para
ulama ini, sebagian hidup sebelum masa Sayid Radhi, sebagian semasa dengannya,
dan sebagian sesudah-nya, tetapi mereka semua meriwayatkan melalui isnad mereka
sendiri-sendiri.
(1) Ibnu Abil Hadid menuliskan bahwa gurunya
Abul Khair Mushaddiq Ibnu Syabib al-Wasiti (m. 605 H.) menyatakan bahwa ia
mendengar khotbah ini dari Syeikh Abu Muhammad 'Abdullah Ibnu Ahmad Al-Baghdadi
(m. 567 H.) yang dikenal sebagai Ibnu Al-Khasysyab, dan ketika ia sampai di
mana Ibnu 'Abbas menyampaikan kesedihannya karena khotbah ini tertinggal tak
lengkap, Ibnu
Khasysyab mengatakan kepadanya bahwa apabila ia mendengar keluhan sedih Ibnu
'Abbas itu, pastilah ia sudah menanyakan kepadanya apakah ada yang
tertinggal pada saudara misannya itu suatu keinginan lain yang tak dipuaskan,
karena, kecuali Nabi, ia tidak mengecualikan para pendahulunya maupun para
penyusulnya, dan telah mengucapkan semua yang hendak diucapkannya.
Maka, mengapa harus ada kesedihan bahwa ia tak dapat mengatakan apa yang
diinginkannya? Mushaddiq mengatakan bahwa Ibnu Khasysyab adalah orang yang
berhati ceria dan sopan santun. Ketika saya bertanya kepadanya apakah ia juga
memandang khotbah itu sebagai buat-buatan, ia menjawab, "Demi Allah, saya
percaya itu kata-kata Amirul Mukminin, sebagaimana saya percaya bahwa Anda
adalah Mushaddiq Ibnu Syabib."Ketika saya katakan bahwa sebagian orang
menganggapnya buatan Sayid Radhi, ia menjawab, "Bagaimana mungkin Radhi
dapat mempunyai keberanian demikian atau gaya penulisan seperti itu. Saya telah
melihat tulisan-tulisan Radhi dan mengetahui gaya penulisannya. Di mana-mana
tiada tulisannya menyerupai yang satu ini. Dan saya telah melihatnya pada
buku-buku yang ditulis ratusan tahun sebelum lahirnya Sayid Radhi; dan saya
telah melihatnya dalam tulisan-tulisan yang terkenal yang saya tahu ulama dan
ahli sastra mana yang mengutip tulisan-tulisan itu. Pada masa itu, bukan saja
Radhi, tetapi bahkan ayahnya, Abu Ahmad An-Naqib, belum lahir."
(2) Setelah itu, Ibnu Abil Hadid menulis bahwa
ia melihat khotbah ini dalam kompilasi-kompilasi gurunya Abul Qasim ('Abdullah
Ibnu Ahmad) al-Balkhi (m. 317 H.). la pemimpin kaum Mu'tazilah dalam masa
pemerintahan Muqtadir Billah, sedang masa Muqtadir jauh sebelum lahirnya Sayid
Radhi.
(3) la selanjutnya menulis bahwa ia melihat
khotbah ini dalam buku Inshāf karya Ibnu Qibah (Abu Ja'far Muhammad Ibnu
'Abdur-Rahman). la murid Abul Qa sim al-Balkhi dan ulama mazhab Syi'ah Imamiah.
(Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 205-206).
(4) Ibnu Maltsam Al-Bahrani (m. 679 H.) menulis
dalam syarahnya bahwa ia telah melihat satu salinan khotbah itu yang telah
ditulis oleh menteri Muqtadir Billah, Abul Hasan Ali Ibnu Muhammad Ibnu
Al-Furat (m. 312 H.) (Syarh al-Balāghah, I, h. 252-253).
(5) Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi telah
meriwayatkan isnad berikut tentang khotbah ini dari kompilasi Syeikh Qutbuddin
ar-Rawandi, Minhājul Barā 'ah fī Syarh Nahjul Balāghah:
"Syeikh Abu Nashr al-Hasan Ibnu Muahammad
Ibnu Ibrahim menyampaikan kepada saya dari al-Hajib Abul Wafa' Muhammad Ibnu
Badi', al-Husain Ibnu Ahmad Ibnu Badi' dan al-Husain Ibnu al-Husain Ibnu Ahmad
Ibnu 'Abdur-Rahman, dan mereka (mendengar) dari al-Hafizh Abu Bakr (Ahmad Ibnu
Musa) Ibnu Mardawaih al-Ishbahani (m. 426 H.) dan dia dari al-Hafizh Abul Qasim
Sulaiman Ibnu Ahmad ath-Thabarani (m. 360 H.) dan dia dari Ahmad Ibnu Ali
al-Abbar dan dia dari Ishaq Ibnu Sa'id Abu Salamah ad-Dimasyqi dan dia dari
Khulaid Ibnu Da'laj dan dia dari Atha’ Ibnu Abi Rabah dan dia dari Ibnu
'Abbas." (Biharul Anwār, edisi pertama, jilid VIII, h. 160-161).
(6) Dalam konteks itu Allamah al-Majlisi menulis
bahwa khotbah ini juga termuat dalam kompilasi Abu Ali (Muhammad Ibnu 'Abdul
Wahhab) al-Jubba'i (m. 303 H.).
(7) Dalam hubungan dengan otentiknya khotbah ini
sendiri, Allamah al-Majlisi menulis:
"Qadhi 'Abdul Jabbar Ibnu Ahmad
al-Asadabadi (415 H.), seorang Mu'tazilah yang tegar, menerangkan beberapa
ungkapan dari khotbah ini dalam buku Al-Mughni dan berusaha membuktikan bahwa
khotbah itu tidak menyerang para khalifah mana pun sebelumnya, tetapi tidak
menolak bahwa itu komposisi Amirul Mukminin." (Ibid., h. 161).
(8) Abu Ja'far Muhammad Ibnu Ali, Ibnu Babawaih
(m. 381 H.) menulis:
"Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Ishaq
ath-Thalaqani mengatakan kepada kami bahwa 'Abdul 'Aziz Ibnu Yahya al-Jaludi
(m. 332 H.) mengatakan kepadanya bahwa Abu 'Abdullah Ahmad Ibnu 'Ammar Ibnu
Khalid mengatakan kepadanya bahwa Yahya Ibnu 'Abdul Hamid al-Himmani (m. 228
H.) mengatakan kepadanya bahwa 'Isa Ibnu Rasyid meriwayatkan khotbah ini dari
Ali Ibnu Hudzaifah, dan dia dari 'Ikrimah dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Ilal
asy-Syarā'i, bab XXII, h. 360-361).
(9) Kemudian Ibnu Babawaih mencatat rangkaian
isnad berikut:
"Muhammad Ibnu Ali Majilawaih meriwayatkan
khotbah ini kepada kami, dan ia mengambilnya dari pamannya Muhammad Ibnu Abil
Qasim, dia dari Ahmad Ibnu Abi 'Abdillah (Muhammad Ibnu Khalid) al-Barqi dan
dia dari ayahnya dan dia dari Muhammad Ibnu Abi 'UMalr dan dia dari Aban Ibnu
'Utsman dan dia dari Aban Ibnu Taghlib dan dia dari 'Ikrimah dan dia dari Ibnu
'Abbas. ('Ial asy-Syarā'i', I, bab 122, h. 146; Ma'am al-Akhbar, bab 22, h.
361).
(10) Abu Ahmad al-Hasan Ibnu 'Abdillah
Ibnu Sa'id al-'Askari (m. 382 H.), yangtergolong ulama besar Sunni, telah
menulis syarah dan penjelasan tentang khotbah ini, yang telah dicatat oleh Ibnu
Babawaih dalam. 'Ial asy-Syard'i dan Ma 'dni al-Akhbār.
(11) Sayid Ni'matullah al-Jaza'iri
menulis:
"Penulis Kitdb al-Ghardt, Abu Ishaq,
Ibrahim Ibnu Muhammad ats-Tsaqafi al-Kufi (m. 283 H.) telah meriwayatkan
khotbah ini melalui rangkaian sanad-nya sendiri. Tanggal selesainya menulis
buku ini hari Selasa, 13 Syawal 255 H. dan pada tahun itu juga Murtadha
al-Musawi lahir. la lebih tua dari saudaranya Sayid RadhT." (Anwar an-Nu
'māniyyah, h. 37).
(12) Sayid Radhiuddin Abul Qasim Ali Ibnu
Musa, Ibnu Thawus al-Husaini al-Hilli (m. 664 H.) telah meriwayatkan khotbah
ini dari Kitab al-Ghārāt dengan rangkaian sanad berikut:
"Khotbah ini diriwayatkan kepada kami oleh
Muhammad Ibnu Yusuf, yang meriwayatkan dari Hasan Ibnu Ali Ibnu 'Abdul Karim
az-Za'farani, dan ia (meriwayatkan) dari Muhammad Ibnu Zakariyya al-Ghallabi,
dan dia dari Ya'qub Ibnu Ja'far Ibnu Sulaiman, dan dia dari ayahnya, dan dia
dari kakek-nya, dan dia dari Ibnu 'Abbas." (terjemahan Ath-Thara'if, h. 202)
(13)Syeikh ath-Tha'ifah, Muhammad Ibnu al-Hasan ath-Thusi
(m.460H.) menulis:
"(Abul Path Hilal Ibnu Muhammad Ibnu
Ja'far) al-Haffar meriwayatkan khotbah ini kepada kami. la meriwayatkan dari
Abdul Qasim (Isma'il Ibnu Ali Ibnu Ali) ad-Di'bili, dan dia dari ayahnya, dan
dia dari saudaranya Di'bil (Ibnu Ali al-Kuza'i), dan dia dari Muhammad Ibnu
Salamah asy-Syami, dan dia dari Zurarah Ibnu A'yan dan dia dari Abu Ja'far
Muhammad Ibnu Ali (asy-Syeikh ash-Shaduq), dan dia dari Ibnu 'Abbas."
(Al-Amali, h. 137)
(13) Syeikh Mufid (Muhammad Ibnu Muhammad
Ibnu an-Nu'man, m. 413 H.), guru Sayid Radhi, menulis tentang rangkaian sanad
khotbah ini:
"Sejumlah periwayat hadis telah
meriwayatkan khotbah ini dari Ibnu 'Abbas melalui berbagai isnad."
(Al-Irsyād, h. 135)
(15) 'Alam al-Huda (lambang petunjuk)
Sayid Murtadha, kakak Sayid Radhi, telah mencatatnya pada h. 203-204 bukunya
Asy-Sydfi.
(16) Abu Manshur ath-Thabarsi menulis:
"Sejumlah perawi telah meriwayatkan tentang
khotbah ini dari Ibnu 'Abbas melalui berbagai sanad. Ibnu 'Abbas mengatakan
bahwa ia bersama Amirul Mukminin di ar-Rahbah; ketika percakapan beralih kepada
kekhalifahan dan mereka yang telah mendahuluinya sebagai Khalifah, Amirul
Mukminin menghembuskan nafas keluhan dan menyampaikan khotbah ini."
(Al-Ihtijaj)
(17) Abu al-Muzhaffar Yusuf Ibnu 'Abdillah
dan Sibth Ibnu Jauzi al-Hanafi (m. 654 H.) menulis:
"Syeikh kita Qasim an-Nafts al-Anbari
meriwayatkan khotbah ini kepada kami melalui rangkaian sanadnya yang berakhir
pada Ibnu 'Abbas, yang mengatakan bahwa setelah dilakukan pembaiatan kepada
Amirul Mukminin sebagai khalifah, ia sedang duduk di mimbar ketika seorang
laki-laki dari hadirin bertanya mengapa ia berdiam diri ketika itu, lalu Amirul
Mukminin serta merta mengucapkan khotbah ini." (Tadzkirat Khawashsh
al-Ummah, h. 73)
(18) Qadhi Ahmad Ibnu Muhammad, asy-Syihab
al-Khafaji (m. 1069 H.) menulis setalian dengan keasliannya:
"Dinyatakan dalam ucapan-ucapan Amirul
Mukminin Ali (ra), 'Aneh, selama hayatnya ia (Abu Bakar) hendak melepaskan
kekhalifahannya, tetapi ia memperkuat fondasinya untuk orang lain setelah
matinya.'" (Syarh Durrat al-Ghawwash, h. 17)
(19) Syeikh 'Ala ad-Daulah as-Simnani menulis:
"Amirul Mukminin SayyidAl-'Arifin Ali a.s.
telah menyatakan dalam satu khotbahnya yang cemerlang, "Ini syiqsyiqah
yang menyembur keluar". (al-'Urwah li Ahl al-Khalwah wa al-Jalwah, h. 3,
naskah di Perpustakaan Nasiriah, Lucknow, India)
(20) Abul Fadhl Ahmad Ibnu Muhammad al-Maldant
(m. 518 H.) menulis sehubungan dengan kata syiqsyiqah:
"Satu khotbah Amirul Mukminin terkenal
sebagai Khotbah asy-Syiqsyt-qiyyah (khotbah busa unta)." (Majma'
al-Amtsāl, jilid I, h. 369)
(21) Pada lima belas tempat dalam An-Nihayah,
sementara menerangkan kata-kata dari khotbah ini, Abu as-Sa'adat Mubarak Ibnu
Muhammad, Ibnu al-Atsir al-Jazari (m. 606 H.) telah mengakuinya sebagai ucapan
Amirul Mukminin.
(22) Syeikh Muhammad Thahir Patnt, ketika
menerangkan kata-kata itu dalam Majma' al-Bihar al-Anwar, membenarkan khotbah
ini dari Amirul Mukminin dengan kata-kata, "Ali mengatakan
demikian."
(23) Abul Fadhl Ibnu Manzur (m. 711 H.) telah
mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin, dalam Lisan al-'Arab, jilid XII, h.
54, dengan mengatakan, "Itu adalah busa unta yang mencetus, kemudian
mereda."
(24) Majduddln al-Firuzabadt (m. 816/7 H.) telah
mencatat kata syiqsyiqah dalam kamusnya (Al-Qdmus, III, h. 251):
"Khotbah asy-Syiqsytqiyyah Ali dinamakan
demikian karena ketika Ibnu 'Abbas meminta kepadanya untuk meneruskannya di
mana ia telah me-ninggalkannya, ia berkata, "Wahai, Ibnu 'Abbas! Itu busa
unta (syiqsyiqah) yang mencetus keluar lalu mereda."
(25) Penyusun Muntahd al-Adab menuliskan:
"Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah Ali diatributkan
pada Ali (karramallahu wajhahu)."
(26) Syeikh Muhammad 'Abduh, Mufti Mesir,
mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin; ia telah menulis keterangannya
dalam bukunya Syarh Nahjul Baldghah.
(27) Muhammad Muhyiddm 'Abdul Hamid, guru besar
pada Fakultas Bahasa Arab, Universitas al-Azhar, telah menulis anotasi tentang
Nahjul Baldghah dengan membubuhkan prakata, di mana ia mengakui semua khotbah
yang mengandung pernyataan-pernyataan menyinggung semacam itu sebagai
ucapan Amirul Mukminin.
Di hadapan semua penyaksian dan semua bukti yang
tak tersangkal ini, tidak ada tempat untuk menganggap bahwa khotbah itu bukan
dari Amirul Mukminin dan bahwa itu buatan Sayid Radhi sendiri.
[ii] Amirul Mukminin mengacu pengangkatan Abu
Bakar menjadi khalifah, sebagai berbusana
dengan itu. Ini kiasan biasa. Maka, ketika 'Utsman diminta untuk menyerahkan
kekhalifahan, ia menjawab, "Saya tidak akan menanggalkan busana yang telah
dipakaikan Allah kepadaku ini." Tiada ragu bahwa Amirul Mukminin tidak
mengatributkan "baju kekhalifahan" ini kepada Allah, melainkan kepada
Abu Bakar sendiri, karena menurut pandangan ijmak, kekhalifahannya bukanlah
dari Allah melainkan urusannya sendiri. Itulah sebabnya Amirul Mukminin
mengatakan bahwa Abu Bakar membusanai dirinya sendiri dengan kekhalifahan. la
mengetahui bahwa busana ini telah dijahit untuk badannya sendiri, sedang
kedudukannya sendiri sehubungan dengan kekhalifahan adalah kedudukan poros pada
penggiling yang dapat mempertahankan posisi pusatnya dan tak ada gunanya tanpa
itu. Seperti itu pula, ia berpendapat, "Saya adalah sumbu pusat
kekhalifahan; bila saya tidak di sana, seluruh sistemnya akan tersesat dari
pusatnya. Sayalah yang bertindak sebagai pengawal bagi organisasi dan
ketertibannya, dan mengawalnya melewati berbagai kesulitan. Arus pengetahuan
mengalir dari dada saya dan mengairinya pada semua sisi. Kedudukan saya tinggi
di atas ima-jinasi, tetapi pencari keserakahan duniawi untuk pemerintahan
menjadi batu sandungan bagi saya, dan saya harus mengurung diri dalam keterasingan.
Kegelapan yang membutakan merajalela di mana-mana, gelap pekat di mana-mana.
Yang muda menjadi tua dan yang tua berpisah ke kuburan, tetapi masa menanggung
sabar ini tak mau berakhir. Saya terus melihat dengan mata saya penjarahan atas
warisan saya dan melihat berlalunya kekhalifahan dari satu tangan ke tangan
lain, tetapi saya tetap bersabar, karena tak dapat menghentikan
kesewenang-wenangan mereka tanpa sarana."