Masalah Remaja Indonesia | Pendidikan remaja Indonesia | Masalah Populer Remaja Indonesia |
Apakah
anda tahu kalau masyarakat kita yang lahir sekitar tahun 1960 sampai 1970-an
banyak yang mengalamai angka putus sekelah. Benar, memang banyak…itu
dikarenakan ketika jaman belum semodern seperti sekarang dimana link, akses,
beasiswa, perekonomian, nilai tukar rupiah, pembangunan infrastruktur dan
struktur sudah lumayan mapan. Akhirnya sepersekian masyarkat yang lahir dalam
kurun waktu tersebut banyak juga yang hari ini meresa menyesal karena tahun itu
mereka tidak menamatkan enyaman bangku sekolah. Dengan berbagai alasan dan
factor yang cukup bervarian.
Masalah Remaja Indonesia | Pendidikan remaja Indonesia | Masalah Populer Remaja Indonesia |
Namun
tahukah anda bahwa pada saat ini, siswa bahkan mahasiswa yang pada dasarnya
telah mblenger dengan macam-macamnya pola
pengajaran, pelajaran, mata kuliah, prestasi, bahkan fasilitas dunia
pendidikan. Tapi ternyata sepersekian dari mereka ada yang dirasa sekolah namun
tidak sekolah ketika disangkut pautkan dengan konsep prilaku dan karakter.
Alasanya bahwa, semakin tingginya pendidikan yang diperolah seharusnya semakin
tinggi pula pola karakter dan prilaku yang terbentuk dalam implementasinya
apalagi semakin mudahnya mengakses wawasan dari situs jejajaring dan media
elektronik lainya justru dapat lebih meningkatkan pamor elektabilitas mereka.
Kejanggalan
ini tidak semerta-merta tanpa alasan. Cobalah anda tengok atau akses beberapa
penyimpangan sosial para pelajar yang dapat mudah anda dapatkan di situs
internet, kejaksaan agama, kantor kepolisian atau ke kelurahan. Maka disana
anda akan dapat menemukan berbagai varian permasalahan yang cukup unik, koheren
dan rumit jika dipikirkan dengan penuh kesadaran pemikiran. Secara kasatmata
mulai dari kasus hamil muda diluar nikah, tawuran, konsumenisme obat-obatan
terlarang, miras, pembunuhan bahkan pencurian akan anda temukan. Belum lagi
model-model penyimpangan sosial yang belum banyak terekspose, dipublis oleh
media dan belum banyak diketahui oleh masyarakat umum.
Memang
suatu permasalahan yang teramat rumit untuk dibincangkan ketika objek
pembicaraanya adalah penyimpangan sosial remaja saat ini. Kenapa tidak…! Dari
laju perkembangan banyaknya penyimpangan sosial tersebut akhirnya kepercayaan
orang tua terhadap lembaga pendidikan kian tahun kian perlahan menurun selain
itu faktorisasi penyimpangan tersebut juga banyak bersifat sintesis-sintesis
keterpaduan dasar. Selanjutnya apa? Mindset yang terbentuk adalah sekolah hanya
untuk mencari selembar kertas sebagai penunjang kemudahan dalam mencari
perkerjaan dimasa mendatang.
Masalah Remaja Indonesia | Pendidikan remaja Indonesia | Masalah Populer Remaja Indonesia |
Pendidikan
akan menjadi penopang kemajuan zaman jika benar manajemennya. Namun jika kurang
benar pendidikan akan menjadi boomerang bagi siapa saja yang ada dalam sebuah
kepemerintahan suatu bangsa. Maka dari itu pencermatan dan pembatasan terhadap
penyimpangan sosial tersebut harus benar menelisik pada inti permasalahannya.
Saya
pernah mendengar sebuah petuah dari seorang pemuda berkulit putih berketurunan Sunda
berkata, “Semua kehidupan manusia pada
dasarnya berasal dari lingkaran karma pendahulu mereka”. Jadi sebenarnya
kesalahan dan penyimpangan yang terjadi hari ini sebenarnya memang sudah
dipupuk rapi penyebabnya di masa yang lalu. Namun perlu pembaca ingat bahwa
karma yang dimaksudkan bukanlah suatu pembalasan yang setimpal atas kesalahan
yang diperbuat namun bisa jadi balasan dari sebuah kesalahan itu dapat berupa
hal atau bentuk lain. Maka perlunya setiap manusia memotong lingkaran karma
tersebut agar semakin tahun angka penyimpangan remaja tidak kian merebah.
Masalah Remaja Indonesia | Pendidikan remaja Indonesia | Masalah Populer Remaja Indonesia |
Tentu
betapa mirislah segrombolan pahlawan negeri yang mengalami gugur bunga dimasa
lalu jika mereka masih diijinkan melangkahkan kakinya diatas tanah bumi.
Menangislah mereka, marahlah jika mereka tahu jika anak seusia SD saja sudah
mulai mengeksiskan publisisasi tingkahlaku menyimpangnya.
Selain
itu dominasi sifat hedonisme dan konsumerisme telah merambah kesetiap lini, klan, golongan, ras seorang pemuda tanpa
terbeda-bedakan. Namun apa? Ahirnya timbulah sifat yang tak menghargai proses,
serta hidup bermewahan namun berusaha tidak pernah ingin mahun susah payah
dalam segala hal. Semua harus serba instanisasi, mudah dalam segala hal. Setiap
tindakan berpotensi untuk menyelesaikan setiap pekerjaan dengan tangan, akal
dan jiwanya orang lain meski pekerjaan tersebut mudah dan sebenarnya bisa
diselesaikan sendiri. Sifat yang tak menghargai proses dan konsumisasi inilah
yang perlahan membunuh nasionalisme bangsa. Lalu apa yang akan terjadi jika
setiap sifat ini dibina dengan bagus dalam jiwa remaja kita. Maka bersiaplah
nama Indonesia itu, sebentar lagi tidak ada yang ada adalah mahluk individualis-individualis,
oportunis yang tak beridealis.








0 komentar:
Posting Komentar