“Makin sedikit upaya, makin bertenaga.”
—Bruce Lee
B E L A K A N G A N ini, orang makin sadar betapa kelambatan
(slowliness,
bukan keterlambatan atau tardiness)
jauh lebih efektif ketimbang kecepatan yang, pada masa sekarang, lebih
sering berarti keterburuan.4 Bahkan, sudah
mulai ada kritik
terhadap apa yang sekarang disebut sebagai multitasking, yakni
4 Baca, antara lain, In Praise of Slow, karya Carl Honore
(Bentang, 2006).
mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Menyamakan otak manusia dengan system computer—sebuah mesin
yang ke- lebihannya antara lain terletak dalam hal ini (multitasking)— diduga
merupakan suatu kekeliruan karena keduanya memi- liki
cara kerja yang sama. Bahkan,
ternyata, apa yang dikira sebagai multitasking dalam komputer
itu, bukanlah multitas- king yang sebenarnya. Komputer tetap melakukan satu pe- kerjaan
dalam satu waktu. Hanya saja, karena kemampuannya memproses pekerjaan dalam waktu
yang amat singkat, ter- kesan beberapa pekerjaan
dilakukannya secara sekaligus, pada- hal kenyataannya
ia melakukan berbagai pekerjaan itu secara berturutan.
Kebiasaan orang sekarang melakukan beberapa
pekerjaan secara sekaligus diduga
bukan hanya menyebabkan kualitas hasil pekerjaannya tak maksimal,
melainkan dalam jangka
panjang dapat menyebabkan penurunan kemampuan otak.5 Kesimpulannya, dalam banyak hal, melakukan suatu pe- kerjaan dalam satu waktu (one at a time) adalah yang paling baik. Dan, persis, inilah
thuma’nînah. Shalat, yang
dilakukan dengan
benar dan teratur, sudah tentu mengajarkan dan mem- biasakan pelakunya untuk memiliki habit thuma’nînah. Se- orang pengusaha, atau karyawan, yang terbiasa melakukan
5 Baca tulisan
Ninok Leksono yang diringkaskan dari laporan sampul salah satu edisi Newsweek, “Multitasking dan
Konsekuensinya” (KOMPAS, 4 April
2007).
pekerjaan
secara thuma’nînah akan
dapat memaksimalkan hasil pekerjaannya. Gay Hendricks dan Kate Ludman, dalam
Corporate Mystics, menyebutkan sikap tidak terburu-buru ini sebagai salah
satu sifat para
pengusaha dan eksekutif sukses di AS yang
ditelitinya. Menurut kedua
penulis, mereka terus belajar untuk berkonsentrasi pada
masa sekarang, pada
apa yang sedang mereka
kerjakan, dan bukannya
terburu-buru untuk
segera melakukan pekerjaan yang selanjutnya. Bersikap terburu-buru bukan hanya mengakibatkan hasil pekerjaan tak akan maksimal,
melainkan juga menimbulkan “keterpecahan
fundamental yang hanya menghasilkan tekanan dan ketegang-
an” yang tidak perlu.
Bukan hanya itu, salah satu anjuran bagi para pekerja yang berharap untuk dapat mencapai peak performance
adalah mereka harus
selalu menyediakan waktu
di sela-sela waktu mereka untuk menenangkan diri dan relaks di antara jam-jam
kerja mereka. Tak sedikit pula
yang menganjurkan meditasi pada waktu-waktu seperti itu, meski hanya untuk lima menit.
Meditasi rutin di sela-sela waktu bahkan diyakini diperlukan bagi siapa
saja. Kebiasaan seperti
ini dipercayai mampu
me- mulihkan, menenangkan, dan mengheningkan pikiran se- hingga bukan
saja ia siap
untuk kembali bekerja
dengan ke- kuatan
penuh, melainkan juga memungkinkan pikiran-pikir-
an kreatif untuk dapat lahir (Lihat,
Bab 7, “Thuma’nînah dan Flow”). Sebagian orang menyebutnya sebagai “zero mind pro- cess”.
Tanpa semacam meditasi, kecenderungan kemampuan
otak dalam memproses pekerjaan akan secara alami menurun sepanjang hari.
Relaks atau meditasi akan mengembalikannya kepada suatu
kesegaran baru. Seperti
disebutkan dalam Bab 10, “Apakah Shalat Bisa Digantikan dengan Meditasi?”, shalat
menyela rutinitas kita sehari-hari dengan beberapa jeda. Dalam jam kerja normal, kita
sedikitnya mendapatkan jeda
dua kali ketika melakukan
shalat zuhur dan shalat
asar.
Akhirnya, tak diragukan, shalat
menanamkan habit di-
siplin. Bukan saja lima shalat wajib memiliki waktunya sendiri-
sendiri, di dalamnya
termasuk waktu-waktu yang hanya mung-
kin ditepati jika seseorang memiliki komitmen yang kuat ter- hadap disiplin. Yang
paling menonjol di antaranya—di sam- ping shalat tahajud
di tengah malam yang amat dianjurkan— adalah waktu shalat
subuh. Jangka-waktunya yang singkat dan di ujung
waktu-waktu tidur mengharuskan kita untuk bangkit
justru pada saat kita paling tak ingin melakukannya. Khusus berkaitan
dengan shalat subuh ini, kita juga perlu ingat dengan
pepatah yang menyatakan: “early birds get the most”,
“yang paling pagi
dapat yang paling
banyak”, di samping
banyak orang percaya bahwa waktu pagi adalah saat-saat yang di dalam-
nya pikiran kita paling segar dan kita paling efektif melakukan
pekerjaan pada masa-masa ini.
Remuk-Tunduk bak
Pecahnya Gunung
Allah berfirman, “Kalau sekiranya
Kami menurunkan Al- Quran ini kepada
sebuah gunung, pasti kamu akan me- lihatnya tunduk
(khâsyi‘ân) terpecah belah disebabkan takut
kepada Allah” (QS Al-Hasyr [59]: 21).
Malik bin Dinar biasa membaca ayat ini dan lalu berkata, “Aku bersumpah kepada
kalian, tidaklah sempurna seorang hamba dengan Al-Quran
ini kecuali hatinya
benar- benar remuk-tunduk layaknya
gunung yang tunduk
terpecah belah itu (baca: khusyuk) kepada
Allah.” (Al-Khusyû‘ fî Al- Shalâh, Ibn Rajab
Al-Hambali)








0 komentar:
Posting Komentar