Sponsor

Kamis, 14 Maret 2019

Thuma’nînah dan Flow



“Wahai jiwa yang tenang (muthma’innah). Pulang- lah kamu kepada Rabbmu dalam keadaan kamu rela dan Tuhan rela kepadamu. Maka masuklah kamu ke golongan hamba-hamba-Ku. Dan, masuk- lah kamu ke surga-Ku.” (QS Al-Fajr [89]: 27–30)

A Y A T di atas dengan indah mengisahkan akhir perjalanan jiwa manusia yang telah sampai kembali kepada puncak ke- tenangan—yang memang merupakan fitrahnya pada saat ia diciptakan pertama kali—usai perjuangannya melawan jiwa yang mendorong-dorongnya menuju keburukan. Inilah se- kaligus akhir kembalinya jiwa kepada asal-muasalnya (ma‘âd):

56



Tuhan. Karena bukankah sesungguhnya jiwa manusia adalah pancaran Ruh Tuhan? Innâ lil-Lâh wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya, kita bagian dari Allah dan kepada Allah jualah kita kembali).
Jiwa yang tenang dalam Al-Quran disebut sebagai al-nafs al-muthma’innah. Kata muthma’innah memiliki akar kata yang sama dengan kata thuma’nînah, yang merupakan salah satu syarat sah shalat. Thuma’nînah adalah ketenangan dalam me- lakukan semua bacaan dan gerakan shalat, sedemikian sehingga kesemuanya itu dapat dilakukan satu demi satu (one at a time), tidak terburu-buru, sambil memberi waktu cukup untuk pelak- sanaan secara sempurna semua rukun shalat, agar kekhusyukan shalat dapat terpelihara. Memang, rukun yang satu ini terkait erat dengan keharusan khusyuk. Seperti telah disinggung da- lam tulisan-tulisan yang lalu, khusyuk tak mungkin dapat diraih jika shalat dilakukan secara terburu-buru dan lalai (inattentive), bagaikan—kata Rasul Saw.—“burung yang mematuk-matuk makanannya.
Shalat yang diselenggarakan dengan memelihara thuma’- nînah kiranya merupakan latihan sekaligus sarana untuk me- naikkan tingkatan jiwa kita sehingga mencapai derajat “jiwa yang tenang” itu. Dan jika derajat itu bisa dicapai, niscaya se- seorang dapat mengalami keadaan pulang kembali kepada Allah, bahkan sebelum ia mengalami kematian. Dengan kata lain, thuma’nînah benar-benar menjadikan shalat sebagai mi‘râj, sebagai wahana pertemuan hamba dengan Tuhannya.


“ Cabutlah Anak Panah Itu ketika Ia Sedang Shalat ”

Pernah kaki Imam ‘Ali terkena anak panah dalam suatu peperangan. Beliau tidak mampu menahan rasa sakit setiap kali para sahabat berusaha untuk mengeluarkannya. Akhir- nya, mereka datang menghadap Rasulullah untuk menyam- paikan perihal yang menimpa Imam ‘Ali. Rasulullah Saw. ber- sabda, “Cabutlah anak panah itu ketika ia sedang shalat.” Para sahabat Nabi memanggil “dokter” dan mencabut anak panah tersebut dari kaki Imam ‘Ali ketika beliau sedang sibuk mengerjakan shalat. Darah pun mengalir dengan deras- nya. Setelah selesai shalat, Imam ‘Ali bertanya, “Dari mana- kah asalnya darah yang berceceran ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah darah Anda. Kami mengeluarkan anak panah
yang menancap di kaki Anda pada waktu Anda shalat.”
Imam ‘Ali berkata, “Demi Allah yang nyawa ‘Ali berada dalam genggaman-Nya, saya sungguh tidak mengetahui hal ini.”



Mihaly Csikszentmihalyi, seorang tokoh mazhab psikologi positif,3 memberi nama keadaan yang di dalamnya orang me- rasakan kebahagiaan sebagai “flow”. Apakah flow itu? Flow adalah suatu keadaan pikiran yang di dalamnya kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras. Dan ke- adaan seperti ini biasa dicapai lewat pengendalian diri dan pengendalian hidup. Berbagai ciri keadaan “flow” meliputi:
          Konsentrasi yang lebih dalam. Dengan kata lain, pikir- an tidak terpecah-pecah.
          (Perasaan memiliki) kendali penuh atas segala sesuatu.
          Momen sekarang sebagai satu-satunya hal yang pen- ting. Pada gilirannya, keadaan ini identik dengan ke- adaan berikut:



3 Psikologi positif adalah mazhab mutakhir dalam psikologi. Psikologi modern, sejak mazhab psikoanalisis Freudian, telah melewati ber- bagai tahap, termasuk kelahiran mazhab humanistik, transpersonal, dan akhirnya psikologi positif. Psikologi positif, yang antara lain ditokohi oleh Mihaly Csikszentmihalyi, telah membalik pandangan psikologi Freudian yang melihat manusia sebagai berpotensi sakit jiwa menjadi berparadigma manusia sebagai berpotensi bahagia. Jadi, sebaliknya dari mengembangkan “psikologi bengkel” untuk menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, psikologi positif justru mencari teknik-teknik untuk mengaktualisasikan potensi bahagia manusia.



          Perasaan hilangnya dimensi waktu yang, dalam ke- adaan biasa, memotong-motong durasi kehidupan kita.
          Hilangnya (gagasan) tentang ego (diri), yakni menguap- nya batasan-batasan individual kita sebagai sesuatu yang berbeda dari alam selebihnya. (Dalam mistisisme, ke- adaan ini disebut sebagai pengalaman keagamaan yang bersifat ekstrovertif.)

Mihaly menyebut bahwa berbagai cara meditasi Timur, termasuk yoga, dan berbagai praktik dalam Buddhisme dan Taoisme, tak terkecuali juga tasawuf, telah dipakai—dan terbukti memiliki keberhasilan—untuk mencapai keadaan ini. Yakni, ketika pelakunya mampu mengendalikan diri dari pengaruh- pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya.
Meski suatu penelitian lebih jauh, termasuk yang lebih ber- sifat empiris perlu dilakukan, dapat diduga bahwa shalat yang dilakukan dengan kekhusyukan dan thuma’nînah dapat men- ciptakan—bahkan secara lebih baik—ciri-ciri yang menandai keadaan flow (Lihat Bab “Apakah Shalat Bisa Digantikan dengan Meditasi?” di akhir Bagian I). Di sini kita diingatkan oleh kisah- kisah shalat Nabi dan para sahabat yang menjadikan mereka seolah kehilangan kesadaran tentang apa-apa yang terjadi di sekitar mereka.



Nah, jika pengidentikan keadaan khusyuk dan thuma’- nînah dalam shalat dengan keadaan flow ini dapat dibenarkan, maka, bukan hanya secara religius, peran shalat sebagai sumber ketenteraman dan kebahagiaan sekaligus dikonfirmasi oleh penemuan ilmu-pengetahuan modern, dalam hal ini psikologi. Lebih jauh dari itu, shalat—sebagai suatu bentuk zikir— juga memiliki pengaruh positif terhadap upaya pencegahan dan penyembuhan dari penyakit-penyakit yang biasanya di- kaitkan dengan ketidaktenteraman dan kekurangbahagiaan, seperti penyakit jantung, stroke, stres, depresi, dan sebagainya. Inilah kesimpulan yang diambil oleh Dr. Herbert Benson, ahli ilmu kedokteran dari Harvard University dan pendiri Body- Mind Institute, dalam bukunya yang berjudul Relaxation Res- ponse (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul Bebas Stres dalam Lima Menit oleh Penerbit Mizan, Bandung, 2000) dan Beyond The Relaxation Response (juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mizan dengan judul Keimanan yang Menyembuhkan, Mizan, Ban- dung, 2000). Menurut Benson, yang antara lain mengutip Imam Al-Ghazali dalam salah satu bukunya itu, meditasi serta pembacaan mantra—yang dibaca dalam kerangka keimanan atau sebagai wujud ajaran agama—memiliki tingkat efektivitas yang lebih tinggi dalam mendatangkan ketenangan dan meng- atasi berbagai penyakit tubuh dan kejiwaan yang menghalangi
terciptanya kebahagiaan hidup.

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net