“Wahai jiwa yang tenang
(muthma’innah). Pulang- lah
kamu kepada Rabbmu
dalam keadaan kamu rela dan Tuhan rela kepadamu.
Maka masuklah kamu ke golongan hamba-hamba-Ku. Dan, masuk- lah kamu ke surga-Ku.” (QS Al-Fajr [89]: 27–30)
A Y A T di atas dengan
indah mengisahkan akhir
perjalanan jiwa manusia yang
telah sampai kembali
kepada puncak ke- tenangan—yang memang merupakan fitrahnya pada saat ia diciptakan
pertama kali—usai perjuangannya melawan jiwa yang mendorong-dorongnya menuju keburukan. Inilah se- kaligus akhir kembalinya jiwa kepada asal-muasalnya (ma‘âd):
Tuhan. Karena bukankah sesungguhnya jiwa manusia adalah pancaran Ruh Tuhan? Innâ lil-Lâh wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya, kita bagian dari Allah dan kepada Allah jualah
kita kembali).
Jiwa yang tenang dalam Al-Quran disebut sebagai al-nafs al-muthma’innah. Kata muthma’innah memiliki akar kata yang sama dengan kata thuma’nînah,
yang merupakan salah satu syarat sah shalat. Thuma’nînah adalah ketenangan dalam me- lakukan semua bacaan dan gerakan shalat, sedemikian sehingga kesemuanya
itu dapat dilakukan satu demi satu (one at a time), tidak
terburu-buru, sambil memberi waktu cukup untuk pelak-
sanaan secara sempurna semua rukun shalat, agar kekhusyukan
shalat dapat terpelihara. Memang, rukun yang satu ini terkait
erat dengan keharusan khusyuk. Seperti telah disinggung da- lam tulisan-tulisan yang lalu, khusyuk tak mungkin dapat diraih
jika shalat dilakukan secara terburu-buru dan lalai (inattentive), bagaikan—kata Rasul Saw.—“burung yang mematuk-matuk makanannya.”
Shalat yang diselenggarakan dengan
memelihara thuma’- nînah kiranya merupakan latihan sekaligus sarana untuk me- naikkan tingkatan jiwa kita sehingga
mencapai derajat “jiwa yang tenang” itu. Dan jika derajat itu bisa dicapai, niscaya se- seorang dapat mengalami
keadaan pulang kembali
kepada Allah, bahkan sebelum ia mengalami
kematian. Dengan kata
lain, thuma’nînah benar-benar menjadikan shalat sebagai mi‘râj,
sebagai wahana
pertemuan hamba dengan
Tuhannya.
“ Cabutlah Anak Panah Itu
ketika Ia Sedang Shalat ”
Pernah kaki Imam ‘Ali terkena anak panah dalam suatu peperangan. Beliau tidak mampu menahan rasa sakit setiap kali
para sahabat berusaha
untuk mengeluarkannya. Akhir- nya, mereka datang
menghadap Rasulullah untuk menyam- paikan perihal yang menimpa Imam
‘Ali. Rasulullah Saw. ber- sabda, “Cabutlah anak panah itu ketika ia sedang
shalat.” Para sahabat Nabi memanggil “dokter” dan mencabut anak panah tersebut dari kaki
Imam ‘Ali ketika beliau sedang sibuk mengerjakan shalat. Darah pun mengalir
dengan deras- nya. Setelah selesai shalat,
Imam ‘Ali bertanya, “Dari mana- kah asalnya darah
yang berceceran ini?”
Mereka menjawab, “Ini adalah darah
Anda. Kami mengeluarkan anak panah
yang menancap di kaki
Anda pada waktu Anda shalat.”
Imam ‘Ali berkata, “Demi Allah yang nyawa ‘Ali berada dalam genggaman-Nya, saya sungguh tidak mengetahui hal ini.”
Mihaly Csikszentmihalyi, seorang tokoh mazhab psikologi positif,3 memberi nama keadaan yang di
dalamnya orang me- rasakan kebahagiaan sebagai “flow”. Apakah flow itu? Flow adalah suatu
keadaan pikiran yang di dalamnya
kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras.
Dan ke- adaan seperti ini biasa
dicapai lewat pengendalian diri dan pengendalian hidup. Berbagai ciri keadaan “flow” meliputi:
•
Konsentrasi yang lebih dalam. Dengan kata lain, pikir- an
tidak terpecah-pecah.
•
(Perasaan memiliki) kendali penuh atas segala sesuatu.
•
Momen sekarang
sebagai satu-satunya hal yang pen- ting. Pada gilirannya, keadaan ini
identik dengan ke- adaan berikut:
3 Psikologi positif adalah mazhab mutakhir dalam psikologi. Psikologi modern, sejak mazhab psikoanalisis Freudian, telah melewati
ber- bagai tahap, termasuk kelahiran mazhab humanistik, transpersonal,
dan akhirnya psikologi positif. Psikologi positif,
yang antara lain ditokohi oleh Mihaly Csikszentmihalyi, telah membalik pandangan psikologi Freudian
yang melihat manusia
sebagai berpotensi sakit jiwa menjadi berparadigma manusia
sebagai berpotensi bahagia. Jadi, sebaliknya dari mengembangkan “psikologi bengkel” untuk
menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, psikologi positif justru mencari teknik-teknik untuk mengaktualisasikan potensi bahagia manusia.
•
Perasaan hilangnya dimensi waktu yang,
dalam ke- adaan biasa,
memotong-motong durasi kehidupan kita.
•
Hilangnya (gagasan) tentang ego (diri), yakni menguap- nya batasan-batasan individual kita sebagai sesuatu yang berbeda dari alam selebihnya. (Dalam mistisisme, ke- adaan ini disebut
sebagai pengalaman
keagamaan yang bersifat ekstrovertif.)
Mihaly
menyebut bahwa berbagai cara
meditasi Timur, termasuk yoga, dan berbagai praktik dalam Buddhisme dan Taoisme, tak terkecuali juga tasawuf, telah dipakai—dan terbukti memiliki keberhasilan—untuk mencapai
keadaan ini. Yakni, ketika pelakunya
mampu mengendalikan diri dari pengaruh- pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya.
Meski suatu penelitian lebih jauh, termasuk yang lebih ber- sifat empiris perlu dilakukan, dapat diduga bahwa shalat yang dilakukan dengan kekhusyukan dan thuma’nînah dapat men-
ciptakan—bahkan secara lebih baik—ciri-ciri yang menandai keadaan flow (Lihat Bab “Apakah Shalat Bisa Digantikan
dengan Meditasi?” di
akhir Bagian I). Di
sini kita diingatkan oleh kisah- kisah shalat Nabi dan para sahabat yang menjadikan mereka seolah kehilangan kesadaran tentang apa-apa yang terjadi di sekitar mereka.
Nah, jika pengidentikan keadaan khusyuk dan thuma’- nînah dalam shalat
dengan keadaan flow ini dapat dibenarkan, maka, bukan hanya secara religius, peran shalat sebagai sumber ketenteraman dan kebahagiaan
sekaligus dikonfirmasi oleh penemuan
ilmu-pengetahuan modern, dalam hal ini psikologi. Lebih jauh dari itu, shalat—sebagai suatu bentuk zikir— juga
memiliki pengaruh positif
terhadap upaya pencegahan dan penyembuhan dari penyakit-penyakit yang biasanya di- kaitkan dengan ketidaktenteraman dan kekurangbahagiaan, seperti penyakit jantung, stroke, stres, depresi, dan sebagainya. Inilah kesimpulan yang diambil oleh Dr. Herbert Benson, ahli ilmu kedokteran dari Harvard University dan pendiri
Body- Mind Institute,
dalam bukunya yang berjudul Relaxation
Res-
ponse (telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia yang berjudul Bebas Stres
dalam Lima Menit oleh Penerbit
Mizan, Bandung,
2000) dan Beyond The Relaxation Response
(juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia oleh Mizan dengan judul Keimanan
yang Menyembuhkan, Mizan,
Ban- dung, 2000). Menurut Benson,
yang antara lain mengutip Imam Al-Ghazali dalam salah satu bukunya itu, meditasi serta pembacaan mantra—yang dibaca dalam kerangka keimanan atau sebagai wujud ajaran agama—memiliki tingkat efektivitas yang lebih
tinggi dalam mendatangkan ketenangan dan meng- atasi berbagai penyakit tubuh dan kejiwaan yang menghalangi
terciptanya kebahagiaan hidup.








0 komentar:
Posting Komentar