“ J I K A
menghadapi problem filosofis yang tak dapat ku- pecahkan
... biasanya aku akan pergi ke masjid untuk beriktikaf di
dalamnya. Maka kalau tidak
di masjid itu aku mendapat- kan pemecahannya, ia biasanya akan datang dalam mimpiku.” Ungkapan itu keluar dari Ibn Sina, seorang filosof dan ahli ilmu kedokteran Islam. Agar orang tak salah paham, begitu hebatnya keahlian kedokteran Ibn Sina sehingga ensiklopedia kedokteran yang
ditulisnya, berjudul Al-Qânûn fî Al-Thibb,
dipakai di universitas-universitas Eropa
hingga abad ke-18, bahkan ke-19. (Untuk pandangan
Ibn Sina tentang shalat, lihat ringkasannya dalam Bab “Memaknai Shalat: Melalui
Penghayatan Ibn Sina” dalam buku ini juga.)
Bagaimana
mungkin shalat menjadi wahana pencerahan intelektual? Ada beberapa penjelasan yang bisa diberikan:
Pertama, penjelasan yang diberikan oleh ilmu filsafat atau hikmah. Proses mengetahui dapat bersifat intelektual maupun spiritual. Kaum filosof
berpandangan bahwa setiap
momen perolehan pencerahan intelektual pada tingkat tertinggi terjadi
akibat
kontak (ittishâl) antara Akal atau Jiwa Suci (al-‘aql al- qudsiy atau al-nafs al-qudsiyyah) pada diri subjek
dengan apa yang
mereka sebut sebagai Akal Kesepuluh (al-‘aql al-‘âsyir) atau disebut
juga Akal Aktif (al-‘aql al-fa‘ ‘âl). Akal atau inte-
lek ini mereka
identikkan dengan Malaikat Jibril sebagai pe- suruh Allah untuk menyampaikan pengetahuan. (Dalam pan-
dangan ini, pada
dasarnya semua pengetahuan datang lewat
mekanisme ini, baik
wahyu kepada para
nabi, ilham kepada para wali, maupun pengetahuan lain kepada manusia selebih-
nya.) Sedangkan dalam
hikmah (teosofi atau filsafat mistis) Islam, pengetahuan pada tingkat tertinggi mengambil bentuk
ilmu hudhûri (ilmu berdasar kehadiran). Artinya, ilmu seperti
ini tidak lagi dicapai
lewat suatu proses berpikir biasa (hushûli),
tetapi lewat suatu pengalaman
religius yang di dalamnya penge-
tahuan yang diraih hadir
begitu saja dalam
diri (hati) subjek. Dalam konteks ini, shalat yang memenuhi semua persyaratan-
nya akan menghadirkan dan menyucikan akal, atau jiwa, atau
hati sehingga kontak dengan sang penyampai pengetahuan atau hadirnya
pengetahuan itu dapat terjadi.
Kedua, penjelasan berdasar penemuan mutakhir. Shalat yang khusyuk mengangkat pelakunya dari kesadaran penuh akan keadaan sekeliling kepada
suatu keadaan flow, seperti disinggung
sebelumnya. Keadaan flow ini, dalam
penelitian yang lain tapi sejalan, menempatkan otak dalam suatu keadaan
sehingga ia mentransmisikan gelombang alfa—berbeda dengan keadaan
jaga biasa yang di dalamnya
otak memancarkan ge- lombang beta, ataupun gelombang teta dan delta yang dipan-
carkan ketika seseorang tertidur. Pada keadaan
otak seperti inilah,
kreativitas—yakni kemampuan untuk memperoleh pe-
mikiran terbaik—terjadi. Kadang, keadaan seperti ini
ditunjuk sebagai antara tidur
dan jaga. Jadi, pelaku
sudah melewati masa kesadaran
penuh, tapi tak sampai tingkat tertidur. Biasa-
nya, untuk mencapai
level kreatif seperti ini, para ahli menyaran-
kan agar orang
bermeditasi. Tetapi,
pada saat yang
sama, ia juga perlu menjaga agar ia tak sampai tertidur. Mereka
me- nyarankan beberapa kegiatan yang diteliti dapat mewakili modus seperti
ini, semisal: bersantai di bak mandi,
mengemudikan mobil di jalan raya yang sepi, mendengarkan musik klasik, dan sebagainya.
Nah,
shalat dapat diduga menciptakan keadaan
antara jaga dan tidur
seperti ini secara
lebih baik daripada
kegiatan- kegiatan lain yang disarankan para ahli itu. Mengapa? Karena,
jika dalam meditasi, pembacaan doa, apalagi kegiatan-kegiatan mundane (sehari-hari) tertentu yang ditawarkan—seperti men- dengarkan musik,
bersantai di bak mandi, bahkan
menyetir
di jalan sepi, dan
sebagainya—masih terbuka banyak kemung- kinan pelakunya tertidur, maka shalat dapat memenuhi kedua syarat itu
sekaligus. Ia,
di satu sisi, mensyaratkan kekhusyukan
dan thuma’nînah, tapi,
di sisi lain, ia mengandung bacaan- bacaan dan gerakan-gerakan yang berubah-ubah sehingga tetap dapat
memelihara si pelaku dalam
keadaan jaga, betapapun khusyuknya ia melakukan shalat.
Setelah membaca berbagai fungsi dan manfaat shalat seperti ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menyia-nyiakan fasi-
litas Allah ini—meskipun andaikan ia bukan merupakan suatu
kewajiban keagamaan?[]
Shalat Momen Pencerahan
Setelah menjelaskan secara mendetail keuntungan fisik
berbagai sikap shalat, Al-Dzahabi melanjutkan, “Shalat sering melahirkan kebahagiaan dan ketenangan pikiran;
menying- kirkan rasa cemas dan memadamkan api kemarahan. Shalat
meningkatkan kecintaan akan
kebenaran dan kerendahan hati di hadapan manusia; memperlunak hati, menumbuhkan
rasa cinta, rasa maaf, dan memadamkan sifat pendendam.
“Di samping itu,
sering pemikiran jernih
terlintas dalam pikiran (karena konsentrasi terhadap masalah yang pelik)
dan ia bisa menemukan jawaban yang benar terhadap
berbagai persoalan. Kita juga
teringat akan sesuatu
yang lupa. Kita bisa menemukan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah duniawi
dan spiritual. Dan kita dapat
menguji diri sendiri secara
efektif—terutama jika kita
khusyuk dalam
shalat. Waktu shalat terbaik
adalah pada akhir
malam ketika orang
terlelap dan suasana senyap.”
Demikianlah pernyataan Al-Dzahabi yang cukup pan- jang tentang manfaat
praktis shalat dalam Al-Thibb Al- Nabawi
(Pengobatan Cara Nabi).








0 komentar:
Posting Komentar