Sponsor

Selasa, 12 Maret 2019

Shalat dan Pencerahan




J I K A menghadapi problem filosofis yang tak dapat ku- pecahkan ... biasanya aku akan pergi ke masjid untuk beriktikaf di dalamnya. Maka kalau tidak di masjid itu aku mendapat- kan pemecahannya, ia biasanya akan datang dalam mimpiku.” Ungkapan itu keluar dari Ibn Sina, seorang filosof dan ahli ilmu kedokteran Islam. Agar orang tak salah paham, begitu hebatnya keahlian kedokteran Ibn Sina sehingga ensiklopedia kedokteran yang ditulisnya, berjudul Al-Qânûn Al-Thibb, dipakai di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-18, bahkan ke-19. (Untuk pandangan Ibn Sina tentang shalat, lihat ringkasannya dalam Bab “Memaknai Shalat: Melalui
Penghayatan Ibn Sina” dalam buku ini juga.)

62



Bagaimana mungkin shalat menjadi wahana pencerahan intelektual? Ada beberapa penjelasan yang bisa diberikan:
Pertama, penjelasan yang diberikan oleh ilmu filsafat atau hikmah. Proses mengetahui dapat bersifat intelektual maupun spiritual. Kaum filosof berpandangan bahwa setiap momen perolehan pencerahan intelektual pada tingkat tertinggi terjadi akibat kontak (ittishâl) antara Akal atau Jiwa Suci (al-‘aql al- qudsiy atau al-nafs al-qudsiyyah) pada diri subjek dengan apa yang mereka sebut sebagai Akal Kesepuluh (al-‘aql al-‘âsyir) atau disebut juga Akal Aktif (al-‘aql al-fa‘ ‘âl). Akal atau inte- lek ini mereka identikkan dengan Malaikat Jibril sebagai pe- suruh Allah untuk menyampaikan pengetahuan. (Dalam pan- dangan ini, pada dasarnya semua pengetahuan datang lewat mekanisme ini, baik wahyu kepada para nabi, ilham kepada para wali, maupun pengetahuan lain kepada manusia selebih- nya.) Sedangkan dalam hikmah (teosofi atau filsafat mistis) Islam, pengetahuan pada tingkat tertinggi mengambil bentuk ilmu hudhûri (ilmu berdasar kehadiran). Artinya, ilmu seperti ini tidak lagi dicapai lewat suatu proses berpikir biasa (hushûli), tetapi lewat suatu pengalaman religius yang di dalamnya penge- tahuan yang diraih hadir begitu saja dalam diri (hati) subjek. Dalam konteks ini, shalat yang memenuhi semua persyaratan- nya akan menghadirkan dan menyucikan akal, atau jiwa, atau hati sehingga kontak dengan sang penyampai pengetahuan atau hadirnya pengetahuan itu dapat terjadi.



Kedua, penjelasan berdasar penemuan mutakhir. Shalat yang khusyuk mengangkat pelakunya dari kesadaran penuh akan keadaan sekeliling kepada suatu keadaan flow, seperti disinggung sebelumnya. Keadaan flow ini, dalam penelitian yang lain tapi sejalan, menempatkan otak dalam suatu keadaan sehingga ia mentransmisikan gelombang alfa—berbeda dengan keadaan jaga biasa yang di dalamnya otak memancarkan ge- lombang beta, ataupun gelombang teta dan delta yang dipan- carkan ketika seseorang tertidur. Pada keadaan otak seperti inilah, kreativitas—yakni kemampuan untuk memperoleh pe- mikiran terbaik—terjadi. Kadang, keadaan seperti ini ditunjuk sebagai antara tidur dan jaga. Jadi, pelaku sudah melewati masa kesadaran penuh, tapi tak sampai tingkat tertidur. Biasa- nya, untuk mencapai level kreatif seperti ini, para ahli menyaran- kan agar orang bermeditasi. Tetapi, pada saat yang sama, ia juga perlu menjaga agar ia tak sampai tertidur. Mereka me- nyarankan beberapa kegiatan yang diteliti dapat mewakili modus seperti ini, semisal: bersantai di bak mandi, mengemudikan mobil di jalan raya yang sepi, mendengarkan musik klasik, dan sebagainya.
Nah, shalat dapat diduga menciptakan keadaan antara jaga dan tidur seperti ini secara lebih baik daripada kegiatan- kegiatan lain yang disarankan para ahli itu. Mengapa? Karena, jika dalam meditasi, pembacaan doa, apalagi kegiatan-kegiatan mundane (sehari-hari) tertentu yang ditawarkan—seperti men- dengarkan musik, bersantai di bak mandi, bahkan menyetir



di jalan sepi, dan sebagainya—masih terbuka banyak kemung- kinan pelakunya tertidur, maka shalat dapat memenuhi kedua syarat itu sekaligus. Ia, di satu sisi, mensyaratkan kekhusyukan dan thuma’nînah, tapi, di sisi lain, ia mengandung bacaan- bacaan dan gerakan-gerakan yang berubah-ubah sehingga tetap dapat memelihara si pelaku dalam keadaan jaga, betapapun khusyuknya ia melakukan shalat.
Setelah membaca berbagai fungsi dan manfaat shalat seperti ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menyia-nyiakan fasi- litas Allah ini—meskipun andaikan ia bukan merupakan suatu kewajiban keagamaan?[]






Shalat Momen Pencerahan

Setelah menjelaskan secara mendetail keuntungan fisik berbagai sikap shalat, Al-Dzahabi melanjutkan, “Shalat sering melahirkan kebahagiaan dan ketenangan pikiran; menying- kirkan rasa cemas dan memadamkan api kemarahan. Shalat meningkatkan kecintaan akan kebenaran dan kerendahan hati di hadapan manusia; memperlunak hati, menumbuhkan rasa cinta, rasa maaf, dan memadamkan sifat pendendam.
“Di samping itu, sering pemikiran jernih terlintas dalam pikiran (karena konsentrasi terhadap masalah yang pelik) dan ia bisa menemukan jawaban yang benar terhadap berbagai persoalan. Kita juga teringat akan sesuatu yang lupa. Kita bisa menemukan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah duniawi dan spiritual. Dan kita dapat menguji diri sendiri secara efektif—terutama jika kita khusyuk dalam shalat. Waktu shalat terbaik adalah pada akhir malam ketika orang terlelap dan suasana senyap.”
Demikianlah pernyataan Al-Dzahabi yang cukup pan- jang tentang manfaat praktis shalat dalam Al-Thibb Al- Nabawi (Pengobatan Cara Nabi).

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net