Sponsor

Selasa, 12 Maret 2019

Apakah Shalat Bisa Digantikan dengan Meditasi?




S H A L A T, yang arti-generiknya adalah doa, sampai batas ter- tentu memiliki kesamaan dengan meditasi. Di dalamnya ter- kandung upaya mengheningkan, menenangkan, dan menen- teramkan diri atau jiwa. Namun, lepas dari keimanan bahwa shalat adalah ajaran dari Tuhan, Sang Pencipta Yang Maha- bijaksana, shalat memiliki beberapa sifat yang tak segera ada dalam meditasi.
Pertama, shalat merupakan meditasi yang melibatkan ber- bagai gerakan yang teratur. Gerakan ini memiliki berbagai fungsi. Salah satunya adalah menyatakan berbagai simbol penyembahan kepada sesuatu yang Mahaagung. Mudah di- pahami bahwa simbol diperlukan sebagai sarana untuk meng-


arahkan dan menanamkan tujuan dan makna perenungan itu bagi pelakunya. Tanpa simbol-simbol, niscaya pemahaman dan penghayatan atasnya akan memerlukan lebih banyak energi pikiran, kalau bukannya malah menjadikan perenungan melan- tur ke mana-mana.
Fungsi lainnya, seperti pernah disebutkan sebelum ini, adalah untuk memastikan bahwa pelaku tidak hanyut sehingga justru masuk ke keadaan tidur. Tentu saja gerakan-gerakan ter- sebut haruslah teratur agar tidak mengganggu fungsinya sebagai sarana menenangkan diri.
Keteraturan dan pengulangan adalah sekaligus sarana meng- hasilkan ketenangan. Selain keteraturan dan pengulangan gerak- an, keteraturan dan pengulangan bacaan juga memiliki fungsi yang sama.
Tapi, lebih dari itu, adanya bacaan-bacaan yang harus di- lantunkan oleh seorang pelaku shalat juga memiliki beberapa fungsi yang lain. Pertama, bunyi-bunyian yang terkandung dalam lafal shalat, rima (rhyme), serta kandungan puitis dari bacaan-bacaan shalat sedikit-banyak ikut membantu pen- ciptaan suasana hati yang kondusif bagi kekhusyukan-medi- tatif shalat. Selain itu, makna yang terkandung dalam bacaan- bacaan shalat—yang bersifat spiritual dan devosional (kebak- tian)—tentu saja ikut menekankan (meng-endorse) kesadaran akan dan makna tujuan shalat sebagai sarana mi‘râj dan silatu- rahmi pelakunya dengan Allah Swt.



Di luar itu semua, shalat masih memiliki berbagai aspek pendukung yang tak ada dalam kegiatan meditasi biasa. Termasuk di dalamnya persiapan-persiapan sebelum atau yang mendahului ibadah shalat itu sendiri. Yang terpenting di an- taranya adalah berwudhu—dan mandi suci bagi yang memi- liki halangan (“kekotoran”) tertentu. Wudhu, yang lagi-lagi bersifat ritual, adalah suatu sarana untuk membersihkan tubuh dan simbol bagi pembersihan hati demi kesiapan kita dalam melakukan shalat yang efektif. Kemudian ada berbagai persya- ratan lain, seperti kebersihan tempat dan pakaian. Juga dress code (aturan berpakaian) tertentu dalam bentuk keharusan menutup aurat, serta anjuran menggunakan pakaian terbaik yang kita punyai. Termasuk di dalamnya anjuran untuk me- nutup kepala dan memakai wewangian. Khusus mengenai yang disebut terakhir, bukan hanya dalam tradisi berbagai agama kuno, bahkan belakangan ini makin banyak diterima bahwa wewangian mendukung terciptanya suasana spiritual (ruhaniah).
Ada juga shalat-shalat yang dianjurkan (sunnah) sebelum dan sesudah shalat wajib. Akhirnya, tentu saja ada doa-doa sehabis shalat (tarqîb) yang menuntaskan seluruh ritual shalat tersebut.
Di atas itu semua, kewajiban shalat telah diatur sedemi- kian rupa sehingga membagi waktu kita dalam kegiatan se- hari-hari—subuh ketika matahari terbit, siang ketika matahari di atas kepala, sore antara tengah hari dan terbenamnya mata-


hari, petang ketika matahari terbenam, dan malam yang di- tandai dengan datangnya tengah malam—sedemikian sehingga efek shalat bisa terus terpelihara dalam diri kita. Tampak bahwa pembagian waktu itu dilakukan secara kurang lebih merata dan dikaitkan dengan tonggak-tonggak perubahan waktu dan per- gantian suasana, yang ditandai dengan momentum pergantian gejala alam sehari-hari.6[]

6 Bagi yang berminat meneroka lebih jauh aspek-aspek shalat ini, sila- kan membaca tiga buku yang terkait dengan masalah ini, yakni: Raih 5 Mukjizat Setiap Hari, karya Rajendra Kartawiria (Hikmah, 2007), Pelatihan Shalat Smart, karya M. Shodiq Mustika (Hikmah, 2007), dan Mukjizat Gerak & Bacaan Shalat oleh M. Mahmud Abdullah (IIMaN, cetakan kedua, 2007).

Melengos ke Kanan-Kiri

Diriwayatkan, Ummu Salamah berkata: Pada masa Nabi Saw., orang-orang ketika melakukan shalat, matanya tidak pernah melenceng/melengos dari titik tempat kedua telapak kaki. Tapi setelah Nabi wafat, ketika mereka melakukan shalat, matanya tidak pernah lepas dari titik tempat sujud. Pada masa ‘Umar setelah wafatnya Abu Bakar lain lagi. Mata mereka ketika shalat tidak pernah lepas dari arah kiblat. Eh, pada masa ‘Utsman ketika pecah tragedi besar perang saudara (fit- nah al-kubra), orang-orang ketika shalat mulai melengos ke kanan-kiri. (Sunan Ibn Majah)

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net