Yang dimaksud landasan Dasar atau sumber akhlak adalah yang menjadi
ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran
agama Islam, sumber akhlak adalah Al Qur’an dan Sunnah, bukan akal pikiran atau
pendapat masyarakat sebagaimana konsep etika atau moral. Dan bukan pula seperti
pendapat Mu’tazilah mengenai baik dan buruk (Yunahar Ilyas 2005:4).
Al Qur’an dan Sunnah telah
memiliki ukuran kebenaran yang mutlak dalam menentukan baik dan buruk. Ini tidak
berarti mengesampingkan peran akal, hati nurani dan pendapat masyarakat dalam
menentukan baik dan buruk.
Karena akal pikiran manusia hanyalah salah satu kekuatan yang dimiliki
manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan. Keputusan akal itu berawal dari
pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Sebab itu
keputusan yang didasarkan akal itu hanya bersifat spekulatif dan subyektif
(Asmaran: 1994 35). Begitu pula hati nurani, sekalipun hati nurani atau fitrah
itu dapat dipakai ukuran baik dan buruk tetapi fitrah manusia tidak selalu
terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar, termasuk
pendidikan dan lingkungan. Fitrah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu
dipelihara dan dikembangkan. Tidak sedikit manusia yang fitrahnya tertutup
sehingga hati nuraninya tidak lagi dapat melihat kebenaran. Sebab itu ukuran
baik dan buruk tidak dapat sepenuhnya hanya kepada hati nurani itu fitrah
manusia. Harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah (Yunahar Ilyas: 2005:4)
Demikian juga pandangan masyarakat tidak dapat di jadikan salah satu ukuran
baik dan buruk karena sangat relative. Hal itu tergantung sejauh mana kesucian
hati nurani masyarakat dan kejernihan pikiran mereka dapat terjaga dengan baik.
Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal pikirannya sudah
dikotori oleh sikap dan perilaku yang buruk tentu tidak dapat di jadikan ukuran
sekalipun tidak murtad.
Dari hal diatas hanya Al Qur’an dan Sunnahlah yang memiliki ukuran yang
pasti tidak spekulatif., obyektif, komprehensif dan universal dalam menentukan
ukuran baik dan buruk.
Allah Swt
berfirman:
Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (QS. An Nisa’(4) 59)
Nabi Saw bersabda:
تركت
فيكم امرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتب الله تعالى وسنة رسوله صلى الله عليه
وسلم. رواه المالك
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian selama berpegang teguh
kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat. Dua perkara itu adalah Kitabullah
dan Sunnah Rasul Nya” (HR. Malik)








0 komentar:
Posting Komentar