Mantuq ialah sesuatu yang ditunjuki lafadz atau
lafadz itu sendiri. Sedangkan mafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh
lafadz, tetapi bukan dari ucapan lafadz itu sendiri.
Misalnya dalam QS. Al-Isra’ ayat 23, di dalamnya
ada ayat mantuq dan mafhum. Mantuqnya pada lafadz itu sendiri “jangan kamu
katakan kepada dua orang tuamua perkataan keji” sedangkan mafhum yang tidak
disebutkan untuk memukul dan menyiksanya juga dilarang.
Pembagian mantuq
1. Nash, yaitu suatu perkataan yang jelas dan tidak
mungkin dita’wilkan lagi.
2. Zhahir, yaitu suatu perkataan yang menunjukkan
sesuatu makna, bukan yang dimaksud dan menghendaki kepada penta’wilan.
Pembagian mafhum:
1. Mafhum muwafaqah
Ialah pengertian yang dipahami sebagai sesuatu menurut ucapan lafadz yang
disebutkan. Macam mafhum muwafaqah ada dua, yaitu fahwal khithab dan lahnal
khithab.
2. Mafhum mukhalafah
Ialah pengertian yang dipahami berbeda daripada ucapan, baik dalam
istinbath (menetapkan) maupun nafi’ (meniadakan). Oleh sebab itu hal yang
dipahami selalu kebalikannya daripada bunyi lafadz yang diucapkan.
Contohnya, pemahaman tentang QS. Jum’ah ayat 9, yaitu dalam ayat ini
bahwa boleh jual beli di hari Jum’at sebelum adzan dan sesudah mengerjakan
sembahyang.
Syarat-syarat mafhum mukhalafah:
a. Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat,
baik dalil mantuq maupun mafhum muwafaqah.
b. Yang disebabkn (mantuq) bukan suatu hal yang
biasanya terjadi.
c. Yang disebutkan (mantuq) bukan dimaksudkan untuk
menguatkan sesuatu keadaan.
d. Yang disebutkan (mantuq) harus berdiri sendiri,
tidak mengikuti kepada yang lain.
Macam-macam mafhum mukhalafah:
a. Mafhum shifat, yaitu menghubungkan hukum sesuatu
kepada salah satu sifatnya. Contohnya dalam QS. An-Nisa’ ayat 92:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا
خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ
مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ
عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ
مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى
أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ
شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا
حَكِيمًا (النساء: 92)
Artinya: “Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh
seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan
barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan
seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh)
bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min,
maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia
(si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka
dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.
Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua
bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
(QS. An-Nisa’: 92).
b. Mafhum ‘illat, yaitu menghubungkan hukum sesuatu
kepada salah satu sifatnya. Contoh pengharamakan khamr karena memabukkan.
c. Mafhum ‘adat, yaitu menghubungkan hukum sesuatu
kepada bilangan yang tertentu. Contohnya dalam QS. An-Nur ayat 4:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا
بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا
لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور: 4)
Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita
yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,
maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah
kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang
yang fasik”. (QS. An-Nur: 4).
d. Mafhum ghayah, yaitu lafadz yang menunjukkan hukum
sampai kepada ghayah (batasan, hingaan), hingga lafadz ghayah ini adakalanya
dengan “ilaa” atau dengan “hatta”. Seperti dalam QS. Al-Maidah ayat 6 atau QS.
Al-Baqarah ayat 22:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى
الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ
جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ
أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا
مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ
مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ
لِيُطَهِّرَكُمْ
وَلِيُتِمَّ
نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (المائدة: 6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan
atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu
tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu,
supaya kamu bersyukur”. (QS.
Al-Maidah: 6).
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى
فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ
فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ
يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (البقرة: 222)
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh.
Katakanlah: "Haidh itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu
menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati
mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka
itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah: 222).
e. Mafhum had, yaitu menentukan hukum dengan
disebutkan suatu ‘adat di antara adat-adatnya. Seperti dalam QS. Al-An’am ayat
145:
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى
طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ
لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
(الأنعام: 145)
Artinya: “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam
wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau
daging babi --karena sesungguhnya semua itu kotor-- atau binatang yang
disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka
sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-An’am: 145).
f. Mafhum laqab, yaitu menggantungkan hukum kepada
isim alama atau isim fa'ilmu.








0 komentar:
Posting Komentar