Sponsor

Minggu, 10 Maret 2019

Shalat yang Sebenarnya





M E S K I semua ibadah kepada Allah adalah baik, shalat adalah ibadah yang terbaik. Demikian dinyatakan oleh Al- Quran, hadis, dan ungkapan para ulama dan sufi. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya amal adalah shalat pada waktu- nya.” Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Sesungguh- nya, amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah shalat.” Bahkan, ia diriwayatkan melafazkan kata, “Shalat shalat
…” pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya. Sedang- kan Imam Ja‘far Al-Shadiq—seorang pemimpin umat, sufi, dan filosof, guru Imam Abu Hanifah dan Imam Malik—juga menyeru, “Sesungguhnya, sebaik-baik amal di sisi Allah pada hari kiamat adalah shalat.”

30


Namun, kita bertanya-tanya, kalau sedemikian penting nilai shalat dalam keseluruhan ajaran Islam, mengapa kita se- olah tak banyak melihat manfaat shalat bagi orang-orang yang melakukannya? Mengapa negara-negara Muslim, yang di dalamnya banyak orang melakukan shalat, justru tertinggal dalam hal-hal yang baik dari negara-negara non-Muslim dan menjadi “juara” dalam hal-hal yang buruk, seperti korupsi, misalnya? Mengapa tak jarang kita lihat orang yang tampak rajin menjalankan shalat, bahkan shalat jamaah di masjid- masjid, tak memiliki akhlak yang dapat dicontoh? Apakah Allah Swt. telah melakukan kekeliruan ketika menyatakan bahwa Innash-shalâta tanhâ ‘anil fakhsyâ’i wal-munkar (Sesungguh- nya, shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar)? (QS Al-‘Ankabût [29]: 45). Apakah salah Rasul-Nya ketika menyata- kan bahwa “jika shalat seseorang baik, baiklah semua amalnya”? Shadaqa Allâh al-‘Azhîm wa shadaqa Rasûl Allâh (Sungguh benar Allah Yang Mahaagung dan Rasul-Nya).
Jika ada kekeliruan dan kesalahan, itu tentu terletak pada pemahaman kita tentang firman Allah Swt. dan tentang shalat yang benar. Mari, untuk itu, kita simak ayat lain dalam Kitab Suci-Nya:

(Lukman menasihati putranya:) “Hai Anakku, dirikan- lah shalat dan perintahkanlah (kepada manusia) untuk mengerjakan yang makruf dan cegahlah (mereka) dari berbuat mungkar. Dan bersabarlah terhadap apa yang


menimpa kamu. Sesungguhnya, itu termasuk urusan- urusan yang tegas (diwajibkan oleh Allah).” (QS Luq- mân [31]: 17)

Tampak dalam ayat kutipan tersebut bahwa perintah men- dirikan shalat dipisahkan dari perintah mengerjakan yang mak- ruf dan mencegah yang mungkar. Dengan kata lain, shalat tak otomatis mencegah orang dari melakukan perbuatan mung- kar. Maknanya akan menjadi jelas ketika kita simak sabda Ra- sulullah, yang tampaknya dimaksudkan untuk menafsirkan ayat tersebut, sebagai berikut:

“Lâ shalâta li man la tanhâhu shalâtuhu ‘anil fakhsyâ’i wal munkar (Tak melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tak menghindarkannya dari kekejian dan kemungkaran).”

Jadi, alih-alih sebagai jaminan bahwa orang yang shalat pasti tercegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ayat tersebut mesti dipahami sebagai definisi shalat yang sesung- guhnya. Yakni, bahwa shalat yang benar akan termanifestasi- kan dalam kebaikan akhlak.
Menjelaskan lebih jauh pengertian ini, Imam Ja‘far Al- Shadiq menyatakan:


“Ketahuilah bahwa sesungguhnya shalat itu merupakan anugerah Allah untuk manusia, sebagai penghalang dan pemisah (dari keburukan). Oleh karena itu, sesiapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hen- daklah ia memerhatikan apakah shalatnya mampu men- jadi penghalang dan pemisah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang diterima (oleh Allah) ada- lah hanya sejauh yang mencegah pelakunya dari per- buatan keji dan mungkar.”

Shalat yang tak memiliki sifat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar tak memiliki nilai sebagai shalat yang benar, sehingga ia tertolak, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang lain: “Ada kalanya seseorang shalat terus-menerus selama 50 tahun, namun Allah tak menerima satu pun dari shalatnya.”
Nah, pertanyaan yang tidak-bisa-tidak akan muncul ada- lah: apakah syarat-syarat shalat yang benar, yang diterima oleh Allah itu?[]




Pesan Syaikh

Putra Syaikh Hasan Ali Isfahani berkata, “Dua orang peda- gang pasar Masyhad bercerita kepada saya, bahwa dahulu kami mengalami masa sulit dalam kehidupan kami. Untuk memecahkan problem ini, kami berdua pergi ke tempat Syaikh Hasan Ali Isfahani. Di sana banyak sekali orang yang sedang menunggu giliran untuk dapat berjumpa dengan beliau. Kami pun duduk sambil menanti giliran kami. Tiba-tiba, dari keru- munan orang banyak itu, Syaikh memanggil kami berdua untuk menghadap. Beliau berkata kepada salah satu dari kami, ‘Kamu harus melakukan sesuatu yang tidak kamu lakukan.’ Sementara kepada yang lain, beliau berkata, ‘Kamu tidak boleh melakukan sesuatu yang kamu lakukan (yakni salah satu dari kalian ada yang tidak shalat sementara yang lain suka mengonsumsi minum-minuman keras). Pergilah kalian berdua dan lakukanlah tugas kalian agar keadaan kalian mengalami perubahan.’ Kami akui salah satu dari kami memang tidak pernah shalat dan yang lain peminum.
“Sesuai dengan wasiat Syaikh, kami mengamalkan apa yang dianjurkannya kepada kami dan pada akhirnya kami pun dapat keluar dari kesusahan kami.”

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net