Sponsor

Selasa, 12 Maret 2019

Shalat dan Keharusan Khusyuk


A L L A H berfirman, Sesungguhnya shalat itu amat berat, ke- cuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS Al-Baqarah [2]: 45). Jika ayat ini dibaca dengan teliti, akan kita dapati bahwa ia memiliki “pemahaman terbalik” (inverse logics atau mafhûm mukhâlafah) bahwa shalat hanya memiliki nilai jika dilakukan dengan khusyuk.
Khusyuk bermakna kesadaran penuh akan kerendahan kehambaan (‘ubûdiyyah) diri kita sebagai manusia di hadapan keagungan Rubûbiyyah (Ketuhanan). Sikap khusyuk ini tim- bul sebagai konsekuensi kecintaan sekaligus ketakutan kita kepada Zat Yang Mahakasih dan Mahadahsyat ini. Sebagai implikasinya, orang yang memiliki sikap seperti ini akan ber-
                                                            
upaya memusatkan seluruh pikiran—seluruh keberadaannya
—kepada kehadiran-Nya dan membersihkannya dari apa saja yang selain Allah. Tidak bisa tidak ini berarti hadirnya hati. Tanpa kehadiran hati, shalat kehilangan nilainya. Rasulullah bersabda, “Shalat yang diterima adalah sekadar hadirnya hati.”
Diriwayatkan pula darinya Saw. bahwa “Dua rakaat shalat orang yang khusyuk lebih bernilai ketimbang 1.000 rakaat shalat orang yang tak peduli.” Kepada Abu Dzar, Rasul Saw. mengajarkan, “Dua rakaat shalat pendek yang disertai dengan tafakur adalah lebih baik daripada shalat sepanjang malam dengan hati yang lalai.”
Di kesempatan lain, Rasul Saw. menamsilkan:

“Tak akan diterima shalat seseorang yang dilakukan bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanan- nya.”

Mudah dipahami bahwa seekor burung—sebagai hewan, yang tak memiliki hati atau perasaan sebagaimana manusia— yang sedang mematuk-matuk makanannya melakukan hal itu secara instingtif, sebagai bagian dari keharusannya untuk ber- tahan hidup. Berbeda halnya dengan manusia. Bahkan ketika sedang lapar, manusia menikmati makanannya itu. Bukan ha- nya melahapnya, atau bahkan sekadar menikmati rasanya, me- lainkan juga menghayati cara penyajian dan suasana yang me-



lingkupi waktu makan itu. Apatah pula ketika ia sedang meng- hadap kepada suatu Zat Yang Mahaagung sekaligus Maha- lembut (Lathîf) sebagaimana Allah Subhâna-Hu wa Ta‘âlâ. Jika hati tiada hadir, apa makna shalat, yang dikatakan sebagai sarana pertemuan kita dengan-Nya?
Ayatullah Khomeini memberikan ilustrasi menarik sehu- bungan dengan keharusan khusyuk atau hadirnya hati ini. Kelak ketika kita di-hisâb (diperhitungkan), hal pertama yang akan ditanyakan kepada kita adalah tentang pelaksanaan iba- dah shalat. Dan bahwa baik-buruk nasib kita di akhirat kelak akan ditentukan oleh baik-buruk shalat kita. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw.:

Yang pertama sekali di-hisâb pada hari kiamat adalah shalat. Apabila baik shalat, akan baiklah yang selebih- nya. Apabila buruk shalat, akan buruklah yang selebih- nya.”

Nah, kita harus ingat bahwa yang akan di-hisâb oleh Allah adalah hati kita, sementara fisik kita telah hancur di dalam tanah. Maka, jika kita melaksanakan shalat di dunia tanpa kehadiran hati—tanpa khusyuk, dan hanya merupakan gerakan- gerakan badan serta bacaan lisan—hati kita akan menjawab bahwa kita tak pernah melaksanakan shalat. Sehingga jangan sampai—mudah-mudahan Allah Swt. menjauhkan—kita



menjadi orang yang bangkrut, seperti yang disabdakan Nabi Saw.:

Seseorang melaksanakan shalat selama 50 tahun, dan tak ada yang diterima sedikit pun dari shalatnya.”

Dahulu Setan Paling Lama Mengerjakan Shalat

Dikisahkan bahwa suatu hari Bisyr bin Mansur berada di mas- jid sendirian. Kemudian ia mengerjakan dua rakaat shalat sangat lama sekali. Selesai shalat, ia mendapati seseorang duduk di sampingnya. Bisyr pun berkata kepada orang tersebut, “Ja- nganlah Anda tertipu dengan shalat saya. Shalatnya setan jauh lebih lama daripada saya.”
Kemudian ia meneruskan shalatnya.
Apakah kita tidak takut bahwa dosa yang kita lakukan bisa menyebabkan tidak diterimanya shalat kita? Inilah yang seharusnya terus dipikirkan oleh seseorang agar tidak meman- dang suci dirinya, menyanjung perbuatannya, serta tidak meng- anggap dirinya besar. Imam Shadiq berkata: 

“Ada seorang ‘âbid (orang yang taat beribadah) dan se- orang fâsiq (orang yang selalu melakukan keburukan) masuk ke masjid. Ketika keluar dari masjid, kondisi mereka menjadi terbalik. Yakni, pada waktu orang fâsiq tadi masuk ke masjid, kemudian melihat orang yang ahli ibadah, hatinya terasa hancur dan Tuhan pun mencintainya. Namun, ahli ibadah yang malang itu, begitu matanya melihat ke arah orang fâsiq tersebut, ia berkata, ‘Siapakah gerangan yang masuk ke tem- pat orang-orang Mukmin?’ Karena pikiran semacam inilah, yaitu memandang dirinya lebih tinggi, ia menjadi lebih hina.”

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net